Malam larut itu dadaku bak tersambar petir. Seorang pria yang aku sangat segani, datang bertamu cuma untuk melamarku. Bagaimana mungkin? Aku mengenal baik istrinya. Lagi pula dia kaya raya, sedang aku cuma seorang janda tua dengan tiga orang anak.
“Jangan gila, Mas… “ aku setengah memekik.
Anak-anakku yang bersiap tidur di kamarnya, satu demi satu keluar ke ruang tamu. “Oh.. Om Fadli. Tumben malam-malam. Dari mana Om..,” tanya Wulan, si sulung. Fadli, pria yang sangat aku segani tadi, membalasnya dengan senyum. “Hey .. Wulan. Om sengaja datang malam-malam ada perlu sama mama, kamu dan adik-adikmu,” katanya. Baca selebihnya »