Caleg, Capeg dan Capeng, Apa Bedanya
BEGITULAH bunyi kalimat sms di handphone saya. Jujur, awalnya saya tidak tertarik. Lagi pula sms itu dikirim sekitar jam 23.30 wib, saat saya mulai mengantuk. Saya lempar begitu saja handphone itu ke dekat bantal. “Gila..,” umpat saya seraya beranjak mencari PW (baca: posisi wuenaak) untuk tidur.
“SMS dari siapa? Kalau gak mau terima sms, matikan handphone saja. Itu lebih tidak membuat orang kecewa,” kata istri saya.
“Tengah malam kok maksa orang berpikir,” gerutu saya sambil menyerahkan handphone kepada istri untuk membacanya sendiri. Beginilah cara saya, agar istri selalu berpikir positif terhadap sms ‘nyeleneh’ di handphone saya.
Sementara istri membaca sms, saya berusaha memejamkan mata. Tapi, saya malah membayangkan si pengirim sms. Sahabat saya, guru saya, seorang pebisnis kaya raya, sebut saja Pak Bagong. “Kamu di mana…, sama siapa… sekarang berbuat apa…,” pertanyaan-pertanyaan seperti syairnya Andhika, vokalis Kangen Band, pun mengganggu pikiran saya.
“Dijawab sajalah, mas. Mungkin Pak Bagong lagi butuh teman ngobrol,” tutur istri saya. Benar juga. Siapa tahu, setelah menjawab smsnya saya malah tidak kepikiran lagi dan kemudian bisa tidur pulas. Tapi karena untuk menjawab sms itu ternyata perlu menulis berpanjang-panjang, akhirnya saya putuskan untuk langsung telephon saja.
“Wah, susah saya menjawab smsnya bos. Tapi, tengah malam begini kok sampean masih sempat kirim sms. Saya jadi gak enak. Hidup masih pas-pasan kok tidur sore,” begitulah saya berbasa-basi.
Dari seberang sana, tempat Pak Bagong menerima telepon saya, terdengar suara bising. Suara musik, disertai suara tawa di sana sini. “Memang sedang ada pesta ya bos. Wah, gak ajak-ajak nih,” ujar saya.
“Wah… sayang kamu tidak di sini. Saya lagi kumpul teman-teman pengusaha. Mereka pada ngerasani (menggunjing) ulahnya para caleg,” kata Pak Bagong sambil tertawa.
Alkisah, di sebuah kafe tempat Pak Bagong kongkow, seorang teman pengusaha mengeluhkan tokonya yang tertutup baliho caleg. Bla… bla… bla…, ternyata keluhan itu ditanggapi dengan keluhan serupa oleh pengusaha lain yang sedang kumpul di sana.
Ada salah satu pengusaha mengeluh karena tidak terhitung caleg mendatanginya hanya untuk meminta dukungan. “Mereka itu teman semua. Tapi mau kasih dukungan apa? Masak saya harus mengumpulkan karyawan supaya mencontreng caleg A. Lha nanti caleg B datang, minta dukungan juga. Caleg C juga. Bingung saya,” katanya.
Saya juga bertanya-tanya dalam hati, apa alasan operator seluler XL menampilkan icon monyet pada iklan terbarunya. Apa mungkin karena icon Luna Maya, jadi susah ditonjolkan. Dipasang di tempat tersendiri, sudah tidak ada tempat kosong karena hampir semua lahan kosong – dari jalan protokol sampai jalan kampung – dipenuhi gambar caleg. Dipasang di antara gambar caleg, jadi tidak menonjol karena sama-sama menampilkan gambar orang. Jadi XL akhirnya pilih gambar monyet, supaya tetap bisa menonjol dipasang di mana saja?.
Pak Bagong, akhirnya menjawab sendiri pertanyaannya. Caleg (Calon Legeslatif), Capeg (Calon Pegawai) dan Capeng (Calon Pengusaha), menurutnya punya satu persamaan. Sama-sama membutuhkan penghasilan dan pekerjaan. Perbedaannya lah yang banyak.
Yang bisa dengan mudah dibuktikan adalah, perbedaan kesempatan. Kesempatan jadi Caleg hanya ada 5 tahun sekali, kesempatan jadi Capeg adalah 1 tahun sekali, kesempatan jadi Capeng ada setiap saat.
Sudah menjadi rumus alam, makin kecil kesempatan makin menciptakan peluang terjadinya kompetisi tidak sehat. Lihat saja di iklan-iklan bagaimana Caleg, Capeg dan Capeng memberikan janji kepada masyarakat:
Janji Caleg: “Pilihlah saya, kalau ingin jumlah pengangguran berkurang”, “Siap dipilih untuk melayani masyarakat”, “Siap berjuang untuk rakyat,” bla.. bla.. bla.. Bagaimana jika tidak terbukti? Anda lihat, peraturan perundangan bisa jadi senjata untuk berkelit.
Janji Capeg: “Saya siap melaksanakan apa pun perintah atasan”, “Saya bersumpah tidak akan menerima pemberian berupa apa pun, baik langsung maupun tidak langsung, yang dapat mempengaruhi tugas dan kewenangan saya…”, “Siap ditempatkan di mana saja..”, “Siap melaksanakan tugas berat..” bla.. bla.. bla… Bagaimana jika tidak terbukti? Anda lihat, pegawai tetap bisa ongkang-ongkang karena SK pemberhentian mengandung konsekuensi munculnya beban baru. Seperti putusnya jaringan pelanggan, pencurian data perusahaan, pengeluaran pesangon.
Janji Capeng: “Garansi uang kembali 200 persen”, “No hiden cost..”, “No use, no money..” , “Big sale, up to 50 persen discount”, “Kami kembalikan uang anda jika anda temukan harga lebih murah di tempat lain..” bla.. bla.. bla… Bagaimana jika tidak terbukti? Anda lihat, hari itu juga calon pembeli membatalkan transaksi, hari itu juga pembeli pindah ke tempat lain, hari itu juga pengusaha bisa bangkrut.
Siapa pun anda, pasti lebih memegang janji orang lain yang lebih memberi dampak langsung. Tapi para caleg itu sungguh sudah kalap. Belum tentu bisa menarik simpati, sudah merampas hak orang lain. Lebih kalap lagi, adalah mereka yang melakukan gembar-gembor agar masyarakat cerdas memilih. Bagaimana jika masyarakat benar-benar menggunakan kecerdasannya untuk HANYA MEMILIH CALEG CERDAS?
“Ya itulah yang sekarang jadi pembicaraan teman-teman pengusaha. Kan kalau terpilih, caleg akhirnya sama dengan capeg. Sama-sama jadi calon pensiunan. Kalau capeng, dia akan jadi capeng terus sampai mati. Karena golnya sukses. Hari ini sukses ini, besok harus sukses itu,” kata Pak Bagong.
“Satu hal lagi, agama sudah memberi panduan bahwa rezeki di dunia ini dibagi hanya untuk dua golongan. Yang 70 persen untuk kalangan wira usaha. Sedangkan yang 30 persen itu untuk pekerja. Ya .. biarlah mereka rebutan yang 30 persen saja. Kita-kita ini cari yang lebih banyak ha ha ha,” tambah Pak Bagong sambil ngakak. Selepas guyonan lewat telepon dengan Pak Bagong, tidur saya pun jadi ulas. (inspirator)