Tawaran Menikah Ayah Anakku..
Malam larut itu dadaku bak tersambar petir. Seorang pria yang aku sangat segani, datang bertamu cuma untuk melamarku. Bagaimana mungkin? Aku mengenal baik istrinya. Lagi pula dia kaya raya, sedang aku cuma seorang janda tua dengan tiga orang anak.
“Jangan gila, Mas… “ aku setengah memekik.
Anak-anakku yang bersiap tidur di kamarnya, satu demi satu keluar ke ruang tamu. “Oh.. Om Fadli. Tumben malam-malam. Dari mana Om..,” tanya Wulan, si sulung. Fadli, pria yang sangat aku segani tadi, membalasnya dengan senyum. “Hey .. Wulan. Om sengaja datang malam-malam ada perlu sama mama, kamu dan adik-adikmu,” katanya.
Blaaaarrr! Aku terhenyak. Begitu serta merta dia melontarkan itu. Aku dapati ekspresi anak-anakku belum siap mendengar. “What’s…!!!” pekik Wulan. “Om Fadli gak salah…?”
Fadli malah tersenyum. “Om ke sini datang melamar mama. Tapi bukan untuk Om. Untuk papamu..,” katanya.
Penuturan yang dilontarkan datar-datar itu, makin membuatku lemas. Dadaku berdetak kencang. Pikiranku melayang, membayangkan masa-masa sulit bersama Rusdi. Aku masih ingat betul, ketika pria yang saat itu adalah suamiku, nyaris membunuhku. Sebuah pistol kecil – waktu itu bisa dimiliki pengusaha, ditodongkan ke mukaku saat ia marah. Ketika membalikkan badan, tanpa sengaja pelatuknya tertekan. Beruntung peluru caliber 22 yang dimuntahkan senjata itu mengenai plafon.
Aku juga masih selalu teringat. Ketika suatu saat kupergoki Rusdi berdua di kamar dengan seorang artis cantik tanpa terbalut pakaian. Belum lagi peristiwa-peristiwa menyakitkan. Seperti ketika aku berjuang keras mendapatkan keputusan cerai dari Pengadilan Agama.
Sejujurnya, aku masih sangat mencintai Rusdi. Tapi aku tidak pernah berdoa agar dia kembali. Aku cukup bahagia karena dibolehkan membawa anak-anakku untuk tinggal bersamaku.
“Mama kok malah bengong…”
Wulan membuatku terhenyak dari lamunan. Aku memaksakan diriku tersenyum. Walau sebenarnya hati ini masih bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba Rusdi menginginkanku kembali. “Lha itu, Om Fadli. Ada saja kalau mau guyonan,” kataku berusaha mengalihkan perhatian.
“Ini bukan guyonan. Ini serius. Tadi pagi Rusdi datang ke rumah saya. Dia nangis. Minta bantuan saya untuk menyampaikan niat baik (melamar), karena dia tidak sanggup menyampaikan sendiri,” tutur Fadli.
Alkisah dituturkan Fadli. Setelah hampir 14 tahun anak-anak hidup bersamaku, Rusdi mengalami guncangan berat. Setiap malam membawa pulang perempuan, hanya untuk mengobati kesendiriannya. Perusahannya nyaris colaps.
“Itu ternyata menjadi pelajaran baginya. Ia sekarang taubat. Ia ingin punya keluarga lagi. Tidak ada salahnya lamaran ini kamu pertimbangkan. Mungkin dengan kehadiran kalian membuat dia bersemangat. Apalagi sudah sama-sama tua, mau cari apalagi kalau bukan cari rejeki untuk anak,” kata Fadli.
Kali ini aku terenyuh. Aku melihat anak-anakku seperti berharap. Tapi aku merasa tidak kuasa untuk menerima lamaran itu. “Sudahlah Mas Fadli, saya dengan papanya anak-anak sudah seperti sahabat sekarang. Masa bisa trus bersikap seperti istri. Lagi pula malu, sudah sama-sama tua kok menikah lagi…”
Beberapa hari setelah itu, aku terus menerus mendapat desakan anak-anakku agar mau menerima lamaran papanya. Aku tahu persis keluh kesah mereka selama menjalani hidup tanpa keberadaan seorang papa di rumah. Aku juga tak mampu menahan lagi kepura-puraanku.
Kami pun akhirnya menikah. Sejak itu kami boyongan ke rumah Rusdi. Rumah tangga kami lengkap. Aku dan anak-anakku bahagia. Tapi itu tidak bertahan lama. Rusdi kembali menunjukkan peringai aslinya. Aku memergoki SMS dari beberapa nama wanita di handphone-nya. Mesrah sekali. Hati ini sakit sekali.
Ketika aku coba menegurnya karena SMS-SMS itu, Rusdi marah. Yang mengejutkan, Rusdi mengusirku secara kasar. “Awas.. jangan coba-coba bawa anak-anak. Keluar dari rumah ini sendiri. Mau kemana terserah. Yang jelas, rumah yang kamu tempati dulu sudah dieksekusi bank. Mau apa kamu,” dampratnya.
Aku baru sadar. Rumah yang aku tempati dulu sempat diagunkan ke bank. Itu bukan rumahku. Rusdi hanya membolehkan aku tinggal di sana. Aku memang tidak pernah menuntut pembagian harta gono-gini, karena waktu itu bisa bercerai dengan Rusdi saja merupakan kemerdakaan hidup.
Aku benar-benar sadar. Pernikahanku yang kedua dengan Rusdi ternyata cuma akal-akalan karena dia tidak tega melihat anak-anak diusir dari rumah saat eksekusi. “Ya Allah……”(inspirator)