Doa untuk Mati? Masya Allah…

ilustrasi

ilustrasi

Ini benar-benar nyata. Seorang teman, memberi pengakuan mengejutkan: “Hidup tanpa uang, benar-benar tidak ada harganya. Saya suatu saat shalat hajat, saya bertanya kepada Tuhan, kalau Engkau tidak peduli… kepada siapa lagi aku mengaduh. Akhirnya saya menangis dan berdoa, ya Allah saya ingin mati…”

Saya terenyuh. Pikir saya, separah apa nasib teman saya ini. Seberat itukah arti uang? Saya berusaha mengorek keluh kesah yang belum ia utarakan. Alkisah, 2006 lalu, sang sahabat ini harus keluar dari pekerjaannya. Keputusan dia? Bukan. Hanya karena sang empunya perusahaan merasa usahanya ibarat kapal kebanyakan penumpang. Ia hanya salah seorang penumpang yang terpaksa dikeluarkan dari kapal dengan skoci berupa uang pesangon Rp 80 juta-an.

Biasa menerima gaji bulanan Rp 2 jutaan, sang sahabat awalnya bersyukur. Pikirnya, setidaknya perusahaan telah berbuat bijak dengan memberi skoci berupa pesangon sebesar itu. Ia berharap dengan skoci itu bisa menemukan daratan subur, atau paling tidak bertemu kapal lain agar tidak mati tenggelam.

Pucuk dipinta ulam tiba. Saat terombang-ambing di tengah lautan lepas, sebuah kapal benar-benar mendekat. Sang nakhoda melambaikan tangan siap memberi bantuan. Begitu ephoria, sahabat kita ini melepaskan skocinya. Sayang, ia lupa tidak pernah belajar berenang.

“Ketika ada teman mengaku tengah membuka usaha menawari pekerjaan, uang pesangon saya itu saya habiskan untuk tambahan beli rumah. Pikir saya, biar ada manfaatnya. Toh, setelah ini ada penghasilan untuk makan tiap hari. Ternyata.., teman yang menawarkan pekerjaan tadi menghilang tanpa kabar,” katanya.

Sebulan dua bulan, ia masih terhibur karena menempati rumah baru. Maklum, hampir 20 tahun bekerja, ia hanya mampu menempati rumah kontrakan. Rumah barunya itu di desa. Pekarangannya cukup luas. Untuk bernafas sangat melegakan. Bulan berikutnya, udara sejuk pedesaan pelahan-lahan mulai menyesakkan dada. “Bayangkan, Pak. Melek mata melihat isri nangis gak bisa belanja. Saya mulai berusaha ke-sana ke-mari cari kerjaan. Menghubungi teman-teman lama. Hasilnya nihil, malah terpaksa ngutang untuk ongkos transportasi,” akunya.

Rumah yang baru beberapa bulan ia tempati pun akhirnya dijual. Sejak itu ia mengajak keluarganya menempati rumah kontrakan di kota. Kini ia menekuni usaha baru, jual beli sepeda motor bekas. Rumah kontrakan yang hanya berupa sebuah bangunan berukuran 4×6 meter itu pula sekaligus menjadi showroomnya.

Semoga sahabat saya segera dientas dari cobaan ini. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang pandai mensyukuri keberadaan. Keberadaan diri kita, keberadaan keluarga kita, keberadaan pekerjaan kita. Apapun keberadaan adalah amanah Sang Khalik (***)

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.